Berawal dari Hati

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.

Q. S. Ali Imran (3): 159

Advertisements

Penduduk Langit dan Penduduk Bumi

Laili MIftahur Rizqi iero13 penduduk langit dan bumi blog inspirasi wordpress

Sejak awal, aku sudah tahu bahwa kau adalah penduduk langit
dan aku adalah penduduk bumi

Kamu bernaung di atas sana sedangkan aku tinggal di bawah sini
Sesekali kamu turunkan hujan hingga segar tanah dirasa
Sesekali kamu persilakan terik hingga ceria suasana diraba

Menjadi tugasku kemudian untuk menumbuhkan keindahan
Menjadi tugasku kemudian untuk mempersembahkan kedamaian
Tapi itu bukan tanpa syarat
Ianya hanya terjadi jika langit dan bumi telah melekat

Apa jadinya jika penduduk langit turun ke bumi?
Bumi akan berguncang, Sayang
Apa jadinya jika penduduk bumi merambah ke langit?
Bumi akan kehilangan pesonanya, Cinta

Mengapa ini hanya tentang bumi?
Karena ia yang mengandung masa depan
Karena ia yang melahirkan harapan

Maka, jangan coba menapaki bumi jika kau tak siap terikat
Jangan coba jelajahi bumi jika kau tak siap untuk menetap

NB: Puisi yang apalah-apalah. Similar with former poetry, the words just desperately wanted to pop out of my mind. Lumayan jadi nulis lagi setelah 3 bulan lebih ngga nge-blog xD

Di Mana Tuhan?

Menjadi pribadi yang impulsif ketika membeli buku bacaan memang sangat menyenangkan. Tapi ada resiko yang harus ditanggung setelah melakukannya: aku harus menyediakan banyak waktu untuk membaca tumpukan buku yang semakin tinggi.

Aku belum pernah benar-benar bisa menyediakan waktu untuk membaca, memaksa mata agar tetap terbuka ketika membaca. Tapi tuntutan bahwa ‘aku harus banyak membaca’ semakin kuat hingga akhirnya aku menemukan caranya.

Aku suka nge-game, di hp, RPG. Untuk ‘mengurus’ hero-nya butuh waktu, setiap hari. Bisa sampai dua jam, bahkan lebih: upgrade equipments, upgrade skills, beli hero baru, battle di dungeon baru, dll. Yang suka nge-game pasti ngerti.

Kupikir daripada dua jam kubuang hanya untuk menatapi gerakan tokoh-tokoh animasi yang sedang berkelahi, lebih baik aku menggunakannya untuk … membaca.
Jadi kubuat setting-an permainannya menjadi otomatis. Kubiarkan mereka berkelahi sendiri tanpa kukendalikan – dan pasti hasilnya 100% menang – sementara aku menyibukkan diri membuka lembar demi lembar kertas yang lama terabaikan. Begitu pertengkaran fiksi di layar hp-ku selesai, maka selesai pula waktuku membaca.

Rupanya cara ini cukup efektif. Selama dua minggu ini aku berhasil menyelesaikan bacaan 1 novel dan 2 buku non fiksi. (Ya Tuhan, rupanya aku sangat disiplin dalam bermain game) dan ini menyenangkan! ๐Ÿ˜€

Oh ya, tentang salah satu buku yang pada akhirnya selesai kubaca, masih tentang Perjalanan Rasa milik Fahd Pahdepie. Saat membelinya, aku dalam keadaan ‘normal’. Maksudku, bisa dibilang aku sedang tidak punya masalah. Maka kubaca buku itu tanpa emosi. Dan aku merasa bosan hingga berhenti membacanya di tengah halaman.

Hari ini, aku coba kembali membukanya. Dalam kondisi yang disebut oleh kalangan anak muda sebagai ‘galau’. Dan kamu tahu? Aku serasa sedang dihujam pisau oleh Fahd Pahdepie tepat di jantungku. Nyess! Buku ini berisikan banyak nasehat … kehidupan. Seperti judulnya, ini tentang perjalanan rasa. Banyak rasa: cinta pada pasangan, tentang Tuhan, tentang orang-orang di sekitarmu, bahkan tentang dirimu, mimpi-mimpimu, harapanmu.

Rasanya ingin kuceritakan semua kisah dalam buku ini padamu tapi itu melelahkan. Jadi hanya akan kubocorkan satu cerita yang menurutku menarik. Semoga Bang Fahd tidak keberatan. Toh dia pun tidak menuliskan larangan untuk menyalin sebagian isi bukunya. So here we go. ๐Ÿ™‚

Dia

Pada suatu sore seorang teman datang jauh-jauh dari luar kota untuk mengajakku ‘berdebat’ soal ateisme. Selama ini dia membaca tulisan-tulisanku di buku maupun blog, berkirim e-mail, kemudian akhirnya membuat janji untuk bertemu.

… Dan sore itulah kami bertemu.

“Aku tidak suka berdebat,” sebelum memulai percakapan kami, aku merasa perlu menjelaskan posisiku.

“Kalau begitu kita akan berdiskusi,” katanya.

Aku mengangguk, setuju.

“Saya seorang ateis, Bung,” ia memulai percakapan sore itu dengan pernyataan pertamanya, “Bagaimana menurutmu?”

“Aku tidak punya pendapat. Aku tidak merasa perlu berpendapat soal itu.” Jawabku, singkat.

Ia tampak tidak puas dengan jawabanku. Ia membetulkan posisi duduknya, ingin lebih rileks.

“Bukankah Tuhan telah absen dalam banyak persoalan dan penderitaan manusia? Di mana Tuhan saat peperangan? Di mana Tuhan saat kejahatan dan ketidakadilan merajalela? Di mana Tuhan saat kelaparan merenggut nyawa jutaan jiwa?” Sang Ateis mulai menyerang dengan sejumlah pertanyaan.

“Pertanyaan yang menarik, tetapi aku tidak tahu jawabannya.” Jujur, aku memang tidak tahu bagaimana cara menjawabnya.

“Menurutmu, mengapa manusia masih perlu Tuhan? Tuhan itu tidak ada, Bung! Buktinya, saya yang tidak percaya Tuhan, tetap masih bisa hidup, bernapas, dan bahagia, kan?”

Aku berpikir sejenak. “Bagiku, paling tidak, manusia perlu tempat untuk berkeluh kesah. Aku merasa bahagia bahwa Tuhan itu ada … sehingga ketika aku merasa lemah, putus asa, dan seterusnya, ‘keberadaan’ Tuhan membantuku untuk merasa tidak sendirian. Paling tidak, aku tetap bisa mengeluh, atau bahkan menyalahkan Tuhan mengapa Dia tidak adil, mengapa Dia menentukan dan memutuskan sesuatu yang menurutku keliru.”

“Jawaban Bung kurang teologis! Apa landasan teorinya?”

“Aku tidak bertuhan berdasarkan teori-teori. Konsep bertuhanku sederhana. Itu tadi: Aku memerlukan Objek Agung yang membuatku merasa kecil agar aku tak menjadi sombong di hadapan manusia yang lain. Aku merasa perlu memiliki Tuhan yang tidak memarahiku ketika aku kesal pada-Nya – ketika aku menyalahkan dan menyebut-Nya tidak adil. Aku merasa beban atau kesedihanku berkurang ketika ‘ada yang disalahkan’, karena sifat dasar manusia memang cenderung melemparkan kesalahan dan kekurangan pada pihak lain, dan Tuhanku tidak marah kalau kadang-kadang aku menyalahkan-Nya.”

“Itu sama sekali tidak islami, Bung! Katanya Bung muslim? Dulu saya juga muslim, saya sudah baca berbagai literatur teologi dalam Islam, jawaban Bung sama sekali tidak Islami!”

“Itu dia. Itu sebabnya aku tidak bertuhan dengan teori-teori. Bukankah kamu yang membaca berbagai literatur teologi dalam Islam juga tidak berhasil percaya pada Tuhan?”

Sang Ateis tadi terdiam. Kemudian berusaha ‘menyerang’-ku melalui celah lain. “Bukankah pernyataan Bung tadi berarti tidak menghormati Tuhan? Tuhan jadi tempat berkeluh kesah dan menyalahkan?”

“Ah, ya, itu dia yang membuatku tambah yakin bahwa aku perlu bertuhan: Tuhanku begitu baik. Bahkan terhadapku yang sering tidak menghormati-Nya, meragukan-Nya, mempertanyakan keputusan-Nya, dan menyalahkan-Nya pun Dia tetap baik dengan memberiku kebahagiaan-kebahagiaan.”

“Tidak masuk akal!” Dia mulai kesal.

“Kalau Tuhanku masuk di akalku, berarti Tuhanku kecil – lebih kecil dari daya muat akal manusia. Bagiku, Tuhan harus tidak masuk akal.”

Sang Ateis tampak kecewa sudah jauh-jauh datang untuk berdiskusi denganku. Buang-buang waktu saja, mungkin begitu pikirnya. Ia memang menginginkan perbincangan yang lebih ilmiah dan masuk akal – sayang, ia datang di akhir pekan dan aku tidak ingin membicarakan hal-hal yang ‘ilmiah’ dan ‘masuk akal’ di akhir pekan.

“Aku boleh bertanya?” Aku berusaha mengembalikan percakapan kami, teman tadi sudah lebih banyak diam.

“Tentu,” katanya.

“Kalau kamu memang tidak percaya Tuhan, mengapa masih perlu berdiskusi dan bahkan mengajak orang lain – yang percaya Tuhan – berdebat soal keberadaan Tuhan?”

“Saya ingin mereka tahu, Tuhan itu tidak ada!”

“Apakah menyenangkan jika semua orang percaya bahwa Tuhan tidak ada?”

Sang Ateis tidak menjawab.

Aku menambahkan, “Bagiku, jauh lebih menyenangkan memiliki ‘objek’ yang bisa kita sangka tidak adil atau tidak mengabulkan doa kita daripada tidak memiliki siapa-siapa yang bisa mendengarkan harapan dan keluh kesah kita.”

Teman tadi terdiam. Kali ini, dia tidak tampak kecewa lagi.

“Aku tidak percaya kamu benar-benar ateis.” Akhirnya aku mengucapkan kalimat yang sejak tadi ingin kuucapkan.

“Sungguh, saya ateis, Bung!” jawabnya.

“Kata Nurcholis Madjid, paling tidak para ateis juga punya sesuatu yang mereka tuhankan: Ketidakpercayaan pada tuhan. Aku tidak percaya kamu ateis!” Aku mengulangi lagi pernyataanku.

“Sungguh, saya sudah ateis sejak mahasiswa!” Sekali lagi ia meyakinkan.

“Aku tidak percaya.”

“Sungguh!”

“Aku tidak percaya.”

“Demi Tuhan, Bung, saya ateis!”

Nah!

Di bagian ucapan terima kasih buku ini juga ada nama Fiersa Besari. Ya, dia adalah orang yang membuat tuduhan bahwa semesta senang berkonspirasi. ๐Ÿ™‚

– 3 April 2016, ketika para jagoan fiksiku sibuk bertarung dan aku berhasil membuat satu tulisan di blog.

NB: kepada para Perpanjangan Tangan Tuhan, aku ucapkan terima kasih. Semoga Ia-nya membalas kebaikan kalian dengan kebaikan yang berlipat. ๐Ÿ™‚

Apa Jadinya?

Heyho ~ ini sudah jamnya tidur. Nanti jam 10 juga sudah ada janji sama temen. Tapi pengen nge-blog.ย Its been 14 days since my latest post. Ada banyak hal yang terjadi dalam dua minggu itu. Poin intinya bakal aku ceritain di sini insya Allah, sebagai pengingat (terutama untuk diri sendiri). Lagian banyak hutang postingan juga: trip ke Pangandaran, trip ke Malang, rekaman kajian, … semoga semua selesai sebelum trip ke Karimun Jawa dua bulan lagi. Aamiin *oke, agak ga nyambung memang xD

(#intermezzo Ketika orang sudah beramai-ramai nge-vlog, aku mah masih nge-blog. Bodo amat. Lanjut)

Bermula dari tahun 2014
Saat itu aku mengalami masa sulit. Begitu sulit sampai setiap aku pulang ke rumah, aku selalu menghampiri mama dan bilang, “Ma, doain.” Esok harinya juga, “Ma, doain.” Begitu pula dengan hari berikutnya, “Ma, doain.” Tanpa kusebutkan secara rinci doa seperti apa yang aku butuhkan. Dan hal itu kulakukan berulang-ulang. Hingga tumbuh keyakinan dalam diriku (entah dari mana) bahwa di tahun 2015, I will be much better than now. And I was. Kondisiku benar-benar menjadi jauh lebih baik di tahun 2015.

2015
Permintaanku (melalui doa mama) dikabulkan secara sempurna. God did give me what I asked, perfectly. Hingga aku berpikir, “Ini terlalu sempurna. Ini seperti berada di atas angin. Suatu saat aku akan terjatuh lagi, mesti aku tidak tahu akan seperti apa kejadiannya, meski aku tidak tahu akan seperti apa rasanya.”

Bukankah kesulitan dan kemudahan datangnya memang bergantian?

Waktu itu aku hanya bicara pada diriku, “Seperti apapun kejatuhan itu, yang perlu kau lakukan sekarang hanyalah melakukan yang terbaik, menyelesaikan yang sudah dimulai, dan menyelesaikannya dengan tanggung jawab.”

Sepanjang tahun 2015, semua peristiwa berlalu dengan aman, damai, dan sentosa. Tapi tidak dengan sepanjang bulan Maret di tahun 2016.

Pertengahan Maret 2016
Perang dunia pecah. Lebih besar dari perang sebelumnya. Wah, aku sedih luar biasa. Aku juga kecewa dan marah di saat yang sama. Dadaku sampai sesak. Bahkan tidak sanggup lagi aku berteriak. Tapi aku tidak punya pilihan. Ego harus diredam sekuat fisik. Aku harus mengalah. Harus. Tidak boleh tidak. Harus.

Sulit. Sangat sulit … Tapi (seharusnya) bisa. Dan memang bisa.

Hold on, if you feel like letting go
Hold on, it gets better than you know
Don’t stop looking, you’re one step closer
Don’t stop searching, it’s not over
Hold on

Hold on, Good Charlotte

At that time, I asked for help in order to keep me not losing my sense, in order not to let me be out of my mind. I did ask for help. Gratefully, they gave me help.

“Tenang aja, mungkin lo cuma lagi disuruh istirahat.”
“Ini air zam-zam, berdoa sebelum minum.”
*kemudian mata berbinar-binar (/*3*)/

Alhamdulillaah, Allah “ngebantingnya” keras banget. Sampe berasa sakit. Tapi sisi baiknya, ketika berita baik kembali berdatangan, aku bisa bersikap biasa saja. Bahkan ketika berita baik itu kembali diputar menjadi berita kurang menyenangkan. Biasa saja.

Ahh ~ life is such a rollercoaster. And its fun. It is. Just have nothing to lose and enjoy the ride. Because everything will absolutely be fine. xD

Oh ya, tentang hal yang aku pelajari. Bahwa silaturahim itu penting. Bahwa keluasan jaringanmu itu penting. Bahwa orang-orang yang kamu temui di masa lalu bisa jadi adalah sumber peluangmu di masa depan.

Aku merasa beruntung aku kenal Hokiman. Aku mengenalnya ketika dia menjadi Project Officer di acara Sharing with Alumnus di Matematika. Dua hari lalu aku memintanya untuk menyebarkan suatu undangan. Dan aku merasa sangat terbantu karenanya.
Apa jadinya, kalau waktu itu aku tidak datang ke acara yang kepanitiaannya dia ketuai?
Apa jadinya, kalau ketika aku datang, aku tidak memberikan kritik tentang acaranya?
Apa jadinya, kalau Hokiman ternyata bukanlah orang yang terbuka terhadap kritik?
I guess I wont get any big help like yesterday. ๐Ÿ˜€

Aku juga merasa beruntung aku kenal mentor menulisku. Aku pertama kali mengetahui namanya dari seorang teman yang menjadi fans sang mentor. Aku kenal temanku itu juga dari temanku yang lain. Saat ini, aku diberi kesempatan untuk bekerja dengan mentorku.
Apa jadinya, kalau waktu itu aku tidak ikut pelatihan menulis yang digelar oleh mentorku?
Apa jadinya, kalau teman baruku tidak menyebutkan nama orang yang kini menjadi mentorku?
Apa jadinya, kalau teman lamaku tidak mengenalkanku pada teman baru ini?
I guess I wont get any chance like today. ๐Ÿ˜€

Dan masih ada jutaan pertanyaan lain yang bisa dimulai dengan “Apa jadinya.” Ah, skenario Tuhan memang selalu sempurna. ๐Ÿ™‚

Now, let me summarize. You cant get back to the past. So be blessed with people whom you hang out today. Because one day, youll need their presence, their words, their help. Definitely, one day

Mulai Lagi

Kita selalu bisa mulai lagi
dari awal
Dengan diri kita yang baru
Dengan bekas luka yang membawa pelajaran
Juga dengan impian yang mengajak harapan

Bersama mereka, kita memberanikan diri
Padahal sebenarnya kita takut
Apakah bekas luka akan kembali terbuka?
Ataukah harapan hanya akan berakhir sebagai angan?

Tapi kita selalu bisa mulai lagi
dari awal

Sekali Lagi

fiersa besari konspirasi alam semesta tempat aku pulang surat untuk ibu (2)

Paket di atas sudah tiba sejak beberapa hari lalu. Tapi aku tidak langsung berniat membacanya. Im impulsive about collecting books, not about reading them. Until my friend said, “Qiqi, aku antri pertama buat pinjem, ya!”
What? I even hadnt read it yet. Agak asing bagiku meminjamkan buku yang aku sendiri belum membacanya.

Baiklah, satu atau dua halaman saja tidak akan memakan waktu lama. Gawatnya, aku tipikal yang malas membaca buku tapi jika sudah mulai membaca, aku malas untuk menyudahinya. Terlebih pada buku “Konspirasi Alam Semesta”, Fiersa Besari mampu menuliskan cerita yang sederhana dan manis. Sementara laptopku memutar CD “Tempat Aku Pulang”, pikiranku sibuk menjelajahi tumpukan lembaran di hadapan. Buku tersebut bercerita tentang seorang pria ‘petualang’ bernama Juang yang ‘menyerahkan diri’ pada wanita bernama Ana namun ia ‘terhalang’ oleh nasionalisme dalam jiwanya.

Sama seperti Juang, aku juga tidak percaya pada yang namanya kebetulan. Permainan Semesta selalu sempurna. Dan nampaknya Ia sedang berkonspirasi malam ini. Lagu yang keluar dari speaker laptopku hampir selalu bersesuaian dengan bagian buku yang sedang kubaca. Misalnya saja ketika tokoh Ana berselingkuh. Maka lantunan yang terdengar adalah:

Beri kisah kita sedikit waktu
Semesta mengirim dirimu untukku
Kita adalah rasa yang tepat
Di waktu yang salah

Atau ketika kubaca scene mengenai Juang yang harus berpisah dengan Ana, maka lirik yang mengalun adalah:

Bahkan saat kau memilih
untuk meninggalkan aku,
tak pernah lelah menanti
karena aku yakin, kau akan kembali.

Menit-menit berikutnya, deretan lagu milik Fiersa Besari menjadi semacam background bagi hampir setiap adegan yang sedang kuselami. Kamu boleh tertawa karena tidak percaya. Aku pun merasa aneh dengan konspirasi semacam ini. Hingga aku menyadari bahwa Semesta memang sedang merencanakan sesuatu. Terdengar senandung …

Aku yang terlalu manja
Merengek saat tak dituruti
Kau yang terlalu penyabar
Seakan akulah duniamu

… sementara barisan kata yang menghampiri pandanganku adalah:

Sejak aku lahir, Ibu menjadikanku pusat kosmos. Segala sesuatu selalu tentangku. Kehadiranku menerbitkan indikasi bahwa Bapak dan Ibu mesti membanting tulang dengan lebih keras. Bapak naik pangkat jadi mandor. Ibu mesti kerja serabutan jadi guru di satu SD dan guru les privat di mana-mana.

Pantaskah aku memanggilmu ‘Ibu’ setelah semua yang kulakukan? Aku membalas mulut yang tak pernah berhenti mendoakanku dengan mulut yang terlampau sering mengucapkan kebohongan. Aku membalas tangan yang senantiasa membelai dan merawatku dengan tangan yang terlampau sering mengutamakan kepentingan pribadi di atas kepentinganmu. Aku membalas nyawa yang rela mati untuk kebahagiaanku dengan nyawa yang cuma dipakai untuk mengejar impianku sendiri.

Pantaskah aku memanggilmu ‘Ibu’?
Setelah semua yang aku perbuat
Aku takut terlambat untuk meminta maaf

Surga tak hanya ada di telapak kakimu
Surga ada di segalanya tentangmu


Satu minggu belakangan ini bukanlah hari-hari yang menyenangkan.
Mimpi buruk yang kukira sudah lenyap kini datang kembali, dalam rupa yang lebih buruk.
Mimpi buruk yang kukira habis ditelan waktu kini kembali nampak, dalam rupa yang lebih buruk.

Sangat buruk hingga aku tidak ingin melihatnya lagi.
Sangat buruk hingga aku sampai pada garis paling depan, siap untuk melarikan diri.
Sangat buruk hingga aku mengijinkan diriku sendiri untuk melakukan hal yang juga buruk: berbohong.

Tapi setelah apa yang kubaca dan kudengar,
atas nama Ibu, aku rasa aku tidak keberatan untuk mengalah satu kali lagi.
Meski sebenarnya aku sendiri tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.
Cerita tentang ibu sungguh mampu merubuh habis tembok ego yang telah kubangun tinggi.
Karena cerita bersama ibu selalu mampu membunuh dinding keras kepala yang telah kubangun kuat.

Ibu, aku menangis lagi. Tapi kali ini tanpa ego karena ia lenyap begitu kuingat namamu.
Ibu, aku menangis lagi. Tapi kali ini tanpa keras kepala karena ia hilang begitu kubayang wajahmu.
Bahkan semua argumenku menenggelamkan diri begitu muncul memori tentangmu.

Dan dengan senang hati, akan kutukar duniaku asalkan semua masih tentangmu.
Meski sebenarnya itu pun sama sekali bukan pertukaran yang sepadan.

Aku bukan orang yang tangguh.
Namun sama seperti Juang, aku hanya tidak ingin menjadi manusia yang terlambat.
Terlambat melakukan hal yang seharusnya: seperti terlambat untuk meminta maaf atau terlambat untuk berterima kasih.
Untukmu Ibu, aku mengalah sekali lagi.
Atas namamu Ibu, aku bertahan sekali lagi.

Amarah yang semula memenuhi ruang hati hingga membuatnya hampir meledak, kini berganti menjadi penerimaan.
Bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Dan pasti akan baik-baik saja.
Selalu baik-baik saja.
Karena Ibu, kau tempat aku pulang.

Terima kasih dan maaf ...

Juga terima kasih Fiersa Besari for creating Juang Astrajingga who reflected myself in some ways.


Ah, ini terlalu sentimentil dan aku benci menjadi seorang melankolis.ย  ๐Ÿ˜„

Because you're stronger than you think you are. :)

Because you’re stronger than you think you are. ๐Ÿ™‚

Konspirasi Alam Semesta

Ah, Semesta selalu berkonspirasi.
Jika Ia sudah berkata ya, kamu bisa apa?
Bahkan jika Ia berkata tidak, apakah kamu masih bisa bertindak?

Last weekend, while going to watch my favorite cartoon – Kung Fu Panda – i received this message:

kung fu panda movie animation dreamworks fiersa besari konspirasi alam semesta celengan rindu tempat aku pulang

Oh God, actually there are some people out there accidentally read my blog content and this is not the first time. I ever experienced this before:

kung fu panda movie animation dreamworks fiersa besari konspirasi alam semesta celengan rindu tempat aku pulang bandung yogyakarta jogja yogya diy sosroawijayan catherina homestay

So, people happened to be stick on my website because of some posts about traveling and stuffs. Guess i should put more attention to this category. And super thank you miss, you’re the reason why i continue to post. I mean it ๐Ÿ˜€ (sorry if i’m kind of exaggerating but this is amazing and i want to appreciate them ๐Ÿ˜› )

NB: Some people also told me that they couldn’t put any comment on my post and i didn’t know why. Anyone can help? Please contact me asap ๐Ÿ˜ฆ Thank you

Celengan Rindu

celengan rindu fiersa besari

Aku tidak pernah terima, ketika kau bilang
rinduku sudah memenuhi setiap ruang.
Karena yang harus kamu lakukan selanjutnya adalah melempar celengannya
atau memukulnya dengan batu.

Pecah.
Kemudian rinduku bersimbah,
keluar dari tempatnya bernaung.
Tidak mau.
Pasti ada jalan lain, selalu ada jalan lain.

Kamu bisa memperluas ruang hatimu
atau kamu biarkan saja rindu ini meluap.
Agar orang lain juga bisa lihat,
berapa banyak yang bisa kuberi
dan berapa banyak yang bisa kau tampung.

Jika itu terdengar egois,
pilihan tetap padamu: pecahkan atau biarkan.
Satu hal yang perlu kau ingat,
cinta selalu egois.

BTS (Behind The Story):
Been more than a month since my last published writing. Why? Simply because my heart was so empty hahaha. Until days before i got another reason why i should keep posting on this blog even (maybe) no one will read. Check it out on my later post here.
About this narration (or whatever you call it), it was inspired by a song titled “Celengan Rindu” by Fiersa Besari. I haven’t listened to the song yet. Just looked at the picture above while opening the CD’s cover and the words brutally came into my mind, asked to be written. Voila, there the writing goes ๐Ÿ˜€
Fiersa Besari, i barely know him from my friends. Seemed like he’s worth to be found out. Then i ended up buying his book and albums.

celengan rindu konspirasi alam semesta fiersa besari tempat aku pulang

Love collecting both books and CDs, pretty impulsive about these things.

Okay, enough with the chitty chat. See you on another post –,)/

Jane dan Dunia Peri Jagung (3)

โ€œKarung … karung jagung. Harus kutemukan dan segera pergi dari sini. Tapi di mana …โ€ Jane meraba-raba tanah di dekatnya. Namun, karung itu tidak juga nampak. Wajah Jane berubah panik. โ€œDaddy akan marah jika dia tahu ada karung jagung milik pelanggannya yang hilang. Argh, bagaimana ini?โ€

โ€œApa itu yang kau cari?โ€

Jane menatap serangga itu sebentar โ€“ merasa aneh karena ada hewan yang bisa bicara โ€“ kemudian menoleh ke belakang mengikuti telunjuk si serangga. Pemandangan selanjutnya membuat Jane lebih syok lagi. Karung di hadapan Jane menjadi jauh lebih besar. Raksasa. Jangankan untuk membawa satu karung pergi, mengangkat satu butir biji jagung pun Jane belum tentu sanggup.

โ€œAPA INI?! Serangga yang bisa bicara dan jagung raksasa,โ€ Jane kehilangan kontrol, โ€œPasti cuma mimpi! Jane, bangunlah, bangun!โ€ Dia menampari pipinya sendiri sekuat tenaga. Kemudian, โ€œAww!โ€

โ€œIni bukan mimpi,โ€ ujar serangga hijau yang sedari tadi mengamati perilaku anehnya.

โ€œLalu apa? Pasti kau yang membuatnya menjadi seukuran itu. Cepat kecilkan!โ€ tuduh Jane.

โ€œSebenarnya bukan karung itu yang membesar, tapi kau yang mengecil.โ€

โ€œHah?!โ€

โ€œSebaiknya kau ikut aku sekarang.โ€

โ€œTidak!โ€ Jane memasang wajah penolakan meski dia sebenarnya tidak punya pilihan lain. Suasana hutan terlalu mencekam bagi seorang anak perempuan yang tidak tahu jalan pulang.

โ€œJika aku berniat jahat, aku sudah melukaimu dari tadi.โ€

Jane pun menurut dan mengikuti langkah kaki serangga di hadapannya yang juga berjalan tegak.

Dengan cepat, mereka menyusuri barisan pohon yang menjulang tinggi dan juga menyeberangi sungai melalui jembatan kayu yang melengkung.

โ€œDunia dongeng …โ€ Jane berbisik.

Serangga hijau itu hanya menoleh sebentar lalu terus melanjutkan langkahnya.

Tak lama, mereka tiba di hadapan satu rumah sederhana berlapis jagung di setiap dinding, atap, hingga pintu. โ€œIni hanya tiruan,โ€ Jane mengonfirmasi dari dekat.

โ€œTentu saja. Kami tidak pernah menggunakan jagung asli. Masuklah.โ€ Serangga itu membuka pintu.

Lalu, mereka berada di dalam ruangan dan disambut dengan tarikan napas kaget dari seluruh penghuninya. Untuk ke sekian kalinya, Jane kembali terkesiap. Kali ini karena di hadapannya sedang duduk beberapa serangga hijau lain.

โ€œTidak adakah manusia di sini?โ€ Jane berbisik pada dirinya sendiri.

Baik Jane maupun para serangga tidak tahu apa yang harus dilakukan.

โ€œSloan, hubungi rekan yang lain untuk memindahkan tumpukan jagung di tengah hutan. Gadis ini …โ€ Si serangga hijau berpaling ke arah Jane, memiringkan kepala, seolah bertanya nama.

โ€œUm, Jane.โ€

โ€œJane yang membawanya. Aku belum mengerti mengapa portal terbuka. Padahal belum saatnya.โ€

โ€œTidak mungkin! Apakah ini pertanda?” Satu serangga hijau berdiri panik.

โ€œTerlalu dini untuk mengambil kesimpulan, Dave. Saat ini yang perlu kita lakukan adalah membersihkan tumpahan sekarung jagung di tengah hutan dan menyembunyikan gadis ini. Aku tidak ingin ada yang melihatnya dan membuat seisi negeri menjadi panik. Hei, cepatlah, Sloan!โ€

Yang diperintah segera keluar ruangan, menghubungi beberapa serangga lain, dan secara sembunyi-sembunyi menembus kegelapan bergerak menuju hutan.

Di tengah suasana yang mendadak menjadi hening, Jane berujar, โ€œHmm, apa tidak keberatan jika ada yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi?โ€

Salah satu serangga wanita dewasa menyilakan Jane untuk duduk di sampingnya, bersama yang lain berhadapan dengan meja bundar dengan ornamen jagung di setiap permukaan.

Sambil mondar-mandir, Luke berkata, โ€œIni bukan dongeng seperti yang kau gumamkan tadi, apalagi mimpi. Ini nyata. Sekarang kau ada di negeri kami, bangsa Aphid …โ€

โ€œAphid? Maaf, apa?โ€

โ€œNama yang sama dengan serangga hama jagung. Secara bentuk, kami memang mirip tapi tentu saja kami berbeda …โ€

Jane masih belum memiliki ide tentang di mana atau dengan siapa dia saat ini.

“Ya, kami berbeda … mmm, bagaimana mengatakannya …”

โ€œApa bedanya?โ€ potong Jane.

โ€œKami punya kekuatan magis.โ€

“Kau pasti bercanda!” Jane mengibaskan tangannya. “Melihat serangga yang bisa bicara saja sudah aneh buatku. Sekarang kau bilang bahwa kalian punya kekuatan ajaib, huh?”

โ€œJustru itu!”

“Justru itu apa?”

“Kau masuk ke dunia kami, serangga yang bisa bicara. Ukuran dirimu bahkan berubah menjadi sangat kecil, …”

“Tidak, jagung itu yang membesar!” Jane bersikeras.

“Sudah kubilang bukan jagung tetapi ka- ah sudahlah, percuma menjelaskannya padamu. Dave, bawa dia ke kamarnya.”

Serangga hijau lain bernama Dave bergerak mendekati Jane dan menggenggam kedua lengannya.

“Wow wow wow, t-tunggu!” Jane mengangkat tangannya tinggi-tinggi, meminta waktu. “Baiklah. Pertama, tidak sopan jika kau bertemu dengan orang asing yang sudah mengenalkan dirinya dan kau bahkan tidak memberi tahu namamu.”

“Luke.”

“Maaf?”

“Luke. Namaku Luke.”

“Oh, oke, Luke.” Jane mengibaskan bahu, melepaskan dirinya dari cengkeraman Dave.

Dave melirik pada Luke dan Luke memberikan isyarat padanya untuk melepaskan Jane.

“Terima kasih. Kedua, setelah kupikir-pikir ada baiknya aku mendengarkanmu dan coba memahami ada apa sebenarnya. Jadi, apa kau tidak keberatan jika aku memintamu untuk menjelaskan sekali lagi?” Jane menyeringai kecil dan berdiri dari duduknya. Ia berjalan mendekati Luke yang berdiri di tengah ruangan.

Luke melirik sebentar pada Jane. “Hmm, baiklah.” Ia menghela napas. “Semua yang hidup di negeri ini tidak pernah berukuran lebih besar dari biji jagung karena kami sangat menghormati jagung. Peraturan yang sudah ada sejak puluhan ribu tahun. Itulah kenapa karung dan jagung yang kau bawa kemari tidak ikut mengecil bersamamu.โ€

Jane mengangguk-angguk sambil terus berjalan. Kini langkahnya berada di belakang tubuh Luke yang masih terus memberi penjelasan.

โ€œKami tidak jahat seperti hama aphid. Mereka hanya menghisap sari biji jagung dan merusak daunnya. Setelah makan sedikit sari jagung, kami menggantinya dengan menyuburkan tanaman jagung dengan … apa aku sudah bilang soal kekuatan magis?โ€

“Oh, ya ya ya.” Jane kaget. “Tapi kami โ€“ manusia โ€“ mengira penyerbukan dilakukan oleh pupuk.โ€ Jemari Jane mulai menggenggam engsel pintu yang berbentuk seperti tongkol jagung yang belum dikupas kulitnya.

โ€œHahaha tentu saja itu tidak benar. Kebohongan yang tetap dijaga oleh para peri sebagai kamuflase agar pekerjaan kami tidak terdeteksi manusia. Setiap tanaman memiliki perinya sendiri. Kami juga sering disebut sebagai Peri Jagung …โ€

“Benarkah? Kalau begitu baiklah, sampai jumpa Peri Jagung!” Jane bergegas membuka pintu dan menyeruak keluar ruangan. Ia melarikan diri.

Tapi baru saja berada di ambang pintu, tubuhnya menabrak sesuatu. “Ouw!” Jane berjongkok sembari memegangi kepalanya.

“Semua biji jagung di tengah hutan sudah selesai kami bereskan, Yang Mulia.” Sloan berujar.

“Yang … Yang Mulia? Lelucon macam apa i- aduh,” Jane masih merasa kesakitan.

“Berapa kali harus kubilang, jangan panggil aku dengan sebutan itu!”

Jane menahan tawa dan gesit berdiri. Seketika rasa sakit di kepalanya menghilang. “Kau? Putera mahkota? Apa tidak salah?”

Luke yang menahan malu kembali memerintahkan Dave untuk menggiring Jane.

“Hei, lepaskan aku!” Jane memberontak. “Yang Mulia, kalau benar kau adalah pewaris tahta, perintahkan serangga ini untuk melepaskanku, hei!”

Dave justru mengencangkan sergapannya dan mulai menyeret Jane.

Jane terus berusaha melepaskan diri dan berteriak.

“Maafkan aku, sementara ini kau harus bersembunyi dari bangsa Aphid yang lain.” Luke meletakkan jemarinya di dagu dan kepalanya menunduk. Ia berpikir

“Daripada mengurungku, lebih baik kau mengembalikanku pulang. Aku berjanji aku tidak akan pernah menampakkan diri di hadapan kalian lagi!”

“Tidak bisa sekarang.” Luke berpikir semakin keras.

“Kenapa? Bukankah kau si “Yang Mulia” dan berkuasa?” Jane memutar bola matanya dan mengeluarkan nada ejekan.

“Portal sudah tertutup, kita tidak tahu kapan ia kembali terbuka, dan berhenti memanggilku Yang Mulia!” Luke membentak. Telunjuknya mengarah tepat di depan hidung Jane. Napasnya terdengar menjadi lebih berat. Dan ia memerintahkan Dave untuk bergegas membawa Jane menuju ruangan yang telah disiapkan.

Wajah Jane berubah menjadi memusuhi. “Ini penculikan! Lihat apa yang akan kau terima jika Daddy menemukanku di sini. Hei, lepaskan aku! Lepaskan …” Perlahan suara Jane hanya tinggal menyisakan gema dari balik lorong.

Jane dan Dunia Peri Jagung (2)

Silakbar Matematika UI

Kemarin waktunya untuk reuni akbar satu Departemen Matematika UI di Graha Dirgantara, Halim Perdana Kusuma. Mulai dari Matematika angkatan pertama sampe terakhir (1961 – 2015). Pas dateng, udah beberapa generasi hadir di situ. Dari angkatan yang saat itu kami aja belum dilahirin sampe ke angkatan yang 7 tahun di bawah kami.

Pas spotted beberapa dosen, kepala langsung started mentioning the names. Dan nama yang pertama kali diinget adalah Pak Suryadi SIS.

IMG_20160131_124320_HDR[1]

And he came! Bapak dosen paling ganteng sedunia! Favorit pokonya mah. Dulu diajar sama beliau untuk kelas Teori Graf (jadi kita bikin graf gitu kaya gambar pohon bercabang-cabang) sama Pelabelan Graf (graf yang udah dibikin dikasih label, dinomor-nomorin) terus dicari polanya, persamaan umumnya, sifat-sifatnya ๐Ÿ˜€

Beliau ini super duper sibuk. Hari Senin sampai Jum’at ngga ada di kampus hahahaha. Jadi kami biasanya kuliah hari Sabtu pagi. Bapak gayanya cool abis. Kalo ngajar hampir ngga pernah pake kemeja. Biasanya selalu polo shirt, celana bahan, sama running shoes :3

Bapak pernah cerita, dulu beliau seruangan sama Bu Rianti. Dan di meja Bu Rianti ada satu piala penghargaan untuk Bu Rianti sebagai dosen paling modis. Bapak ngeliat piala itu dan ketawa ngebandingin sama gaya fashion-nya sendiri yang selalu casual saat ngajar hahahaha ๐Ÿ˜€

Terus seru deh, Bapak juga suka cerita kegiatannya di luar kampus. Beliau sering melakukan kegiatan sosial yang dampaknya langsung dirasain sama masyarakat yang butuh. Jadi beliau ini cenderung mudahlah untuk dapat dana. Terus beliau mikir, daripada dana itu dibawa ke pemerintah daerah yang birokrasinya relatif lama dan kerjanya lamban, beliau kasih aja itu dana ke LSM. Kenapa? Karena LSM kerjanya cepet. Jadilah beliau berhasil bikin pengairan untuk sawah-sawah di suatu desa. ๐Ÿ˜€

Pernah juga beliau dapet dana dari organisasi internasional dan dana itu digunakan untuk pengadaan komputer di daerah pelosok beserta pelatihan untuk penggunaannya. Hasilnya? Salah satu pemuda daerah itu memanfaatkan fasilitas tersebut dan dia berhasil menciptakan bisnis jangkriknya sendiri dengan omset belasan juta rupiah per bulan. Warbiyasa.

Seneng deh dulu jadi koordinator kelasnya Bapak, meski sempet ada tragedi yang mestinya kuliah jadi libur ๐Ÿ˜€ terus kalo duduk mesti di baris depan, kalo Bapak pulang dari LN pasti bawa cokelat buat para mahasiswanya. Duh Bapak :”)

Oke, move on. Bakal panjang banget kalo ceritain Pak Suryadi SIS terus ๐Ÿ˜€

IMG_20160131_143438[1]

Kalo yang pakai baju putih adalah Bu Saskya Mary, pembimbing akademik akyuuu :3 Jadi tiap semester pasti ngantri sama mahasiswa lain juga buat konsultasi tentang mata kuliah dan jumlah sks yang mau diambil hahaha. Waktu mau ambil peminatan, pernah hampir dijeblosin ke statistik gara-gara nilai Statistik Elementer aku A-. Padahal mah buu itu hasil diajarin sama para master statistik, minat mah ngga ada. Karena sesungguhnya statistik jauh lebih abstrak daripada Aljabar Abstrak ๐Ÿ˜€

Dan bukan reuni namanya kalo ngga temu kangen sama temen seangkatan ๐Ÿ˜€

pixlr[1]

This is us, yang sempet-sempetnya grou-fie dikala adek-adek kesayangan lagi nge-band. Iya itu fotonya di depan panggung banget, di tengah-tengah, di hadapan para alumnus senior ๐Ÿ˜

Btw, “adek-adek kesayangan”? Yoih, here they are:

IMG_20160131_123733_HDR[1]

Barry, Nuel, Denny, Adi. Duh mereka junior terkeceh.

Selesai reuni, ngga langsung pulang dong, lanjut kongkow-kongkow dulu kitah di Fat Kid Tebet. Asiknya tempat makan ini adalah adanya mainan! Hahaha iya ke sini buat main. Ada scrabble, uno stacko, uno kartu, fussball, congklak yang ilang-ilangan bijinya, sama ular tangga yang ilang dadunya hahaha.

Pas main uno stacko sempet diliatin orang sih gegara heboh pas tumpukannya rubuh hahahaha. Si Dheni pake segala jatohin gelas di meja. Lanjut main uno kartu dan ini lebih heboohhhh hahahahha duhhh ngebayangin yang mainnya pada jahaaatttt kartu +2 dikeluarin dobel-dobel bertumpuk-tumpuk ๐Ÿ˜€ kalo ini sampe ada pengunjung lain yang bete gegara kami rusuh banget berisiknya hahaha ๐Ÿ˜€

Ditutup dengan permainan truth or truth. Iya, truth or truth banget, bukan truth or dare. Pertanyaan-pertanyaannya sederhana dan itu berlaku untuk semuanya: sebutkan dua resolusi tahun ini dan pengalaman apa yang paling berkesan sama anak-anak subgrup. Tapi jawaban-jawabannya itu lohh hahahhaa jleb jleb jleb ๐Ÿ˜€

Teruntuk sahabat-sahabat tersayang, semoga tercapai yaa impian-impian kalian. Dan teruntuk para pengajar, semoga sehat dan bahagia selalu. Aamiin ๐Ÿ™‚